Jujurlah Pada Hatimu. Pada hakekatnya manusia itu senantiasa dituntut untuk selalu mendayagunakan akal budinya demi terciptanya ketentraman, kedamaian, kebahagiaan dan kebaikan. Baik atau kebaikan adalah salah satu sarana untuk melahirkan kebahagiaan,kebenaran dan keadilan hidup bermasyarakat dan beragama dalam wadah keimanan dan keislaman yang murni.
Hal ini akan terwujud secara baik apabila sebongkah daging yang ada dalam tubuh setiap manusia tidak dikotori dan dinodai oleh berbagai macam penyakit yang biasa disebut dengan penyakit hati.
Read more…
Kroposnya Bangunan Iman Melemahkan Denyut Nadi Kehidupan. Iman dan Takwa telah dibangun diawali semenjak umur mukalaf (baligh) dan ditunjang lingkungan yang kondusif terutama dilingkungan rumah tangga seperti kesalehan dari kedua orang tua. Pada perjalanan hidup itu sendiri tidak tetap tetapi mengalami perubahan disetiap diri seseorang muslim. Rasulullah SAW. Bersabda : “ dan mengisyaratkan bahwa Iman itu YAZIIDU WA YANGUS (naik turun) karenanya Rasulullah SAW. Mewanti-wanti umatnya agar senantiasa menjaga stabilitas Iman dengan taubat, mengakui atas kesalahan yang dilakukan. Para sahabat mengerti dan sangat memahami terhadap pesan-pesan tersebut sehingga membekas dalam hati mereka yakni selalu saja terbetik kekhawatiran akan kekurangan Iman. Padahal telah jelas bahwa merekalah (sahabat) generasi penerus yang utama dan pertama. Hal ini menedakan bahwa bertambah dan berkurangnya Iman sangat menentukan perjalanan menuju kehidupan yang hakiki akhirat.
Read more…
Yang Menuai, Yang Menanam. Pada hakekatnya manusia itu senantiasa dituntut untuk selalu mendayagunakan akal budinya demi terciptanya ketentraman, kedamaian, kebahagiaan dan kebaikan. Baik atau kebaikan adalah salah satu sarana untuk melahirkan kebahagiaan, kebenaran dan keadilan hidup bermasyarakat dan beragama dalam wadah keimanan dan keislaman yang murni. Hal ini akan terwujud secara baik apabila sebongkah daging yang ada dalam tubuh setiap manusia tidak dikotori dan dinodai oleh berbagai macam penyakit yang biasa disebut dengan penyakit hati. Rasulullah Saw bersabda.”Bahwa didalam tubuh manusia itu ada segumpal daging, apabila segumpal daging itu baik. Maka segala kebaikan, kedermawanan, kehalusan budi dsb akan memancar dari dalam diri orang tersebut. Tetapi kalau gumpalan daging itu buruk, rusak, maka jelas segala keburukan yang berimbas pada kerusakan dalam berbagai bentuk, hidup dalam bermasyarakat akan sulit untuk dielakan. Segumpal atau sebongkah daging itulah yang yang beliau sebut dengan “Hati”. Jelas menjauhkan hati tersebut dari aneka penyakit hati merupakan keharusan mutlak demi selamatnya amalan yang telah diperbuat untuk Allah semata
Read more…
Mukzizat Al-Quran. Menurut Al-Quran terjemahan yang diterbitkan deperteman agama Republik Indonesia tahun 1971 dan edisi baru tahun revisi terjemahan tahun 1989 menyampaikan bahwa Al-Quran itu adalah “ Kalam Allah swt yang merupakan mukziziat yang diturunkan ( diwahyukan ) kepada nabi Muhammad saw yang ditulis di mushaf dan diriwayatkan dengan mutawatatir serta membacanya adalah ibadah “, sehingga kalam Allah swt yang diturunkan kepada nabi-nabi selain nabi Muhammad saw tidak dinyatakan sebagai Al-Quran.
Read more…
Puasa dan Pengendalian Diri. “Puasa menurut bahasa Arab berarti As-Shiyaamu atau As-Syaum yaitu menahan dari segala sesuatu perbuatan yang diinginkan. Sedangkan menurut istilah Syarak berarti menahan dari makan dan minum dan dari segala apa yang akan membatalkan atau mengurangi nilai puasa tersebut, yang dihitung mulai dari terbit fajar sampai terbenamnya matahari yang diiringi dengan kumandang azan magrib sebagai tanda masuknya waktu berbuka dan shalat magrib. Dengan niat menjalankan perintah Allah dengan syarat-syarat yang telah ditentukan. Berpuasa pada bulan Ramadhan memiliki berbagai keistimewaan, keistimewaan-keistimewaan ini tidak dapat dirasakan kalau kita menjalankan ibadah puasa ini bukan pada bulan suci Ramadhan. Seperti yang disabdakan Rasulullah Saw “Man sama Ramadhana Imanan wahtisaban qufirallahu mathaqadam minzambih”. Barang siapa yang berpuasa pada bulan Ramadhan karena iman dan mengharapkan pahala dari Allah, niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosanya yang telah lalu “(HR. Bukhari). Hadis Rasulullah Saw diatas harus dapat kita pelajari dan pahami untuk selanjutnya direalisasikan terutama selama bulan Ramadhan maupun diluar bulan Ramadhan. Sangat terang dan jelas via hadis beliau tersebut mengatakan bahwa siapa saja berpuasa yang dilandasi dengan keyakinan akan adanya balasan pahala, dan tulus mengharapkan keridhaan Allah semata, maka akan diampuni dosa-dosa dan perbuatan salah yang pernah dilakukanya.
Read more…