Puasa dan Pengendalian Diri. “Puasa menurut bahasa Arab berarti As-Shiyaamu atau As-Syaum yaitu menahan dari segala sesuatu perbuatan yang diinginkan. Sedangkan menurut istilah Syarak berarti menahan dari makan dan minum dan dari segala apa yang akan membatalkan atau mengurangi nilai puasa tersebut, yang dihitung mulai dari terbit fajar sampai terbenamnya matahari yang diiringi dengan kumandang azan magrib sebagai tanda masuknya waktu berbuka dan shalat magrib. Dengan niat menjalankan perintah Allah dengan syarat-syarat yang telah ditentukan. Berpuasa pada bulan Ramadhan memiliki berbagai keistimewaan, keistimewaan-keistimewaan ini tidak dapat dirasakan kalau kita menjalankan ibadah puasa ini bukan pada bulan suci Ramadhan. Seperti yang disabdakan Rasulullah Saw “Man sama Ramadhana Imanan wahtisaban qufirallahu mathaqadam minzambih”. Barang siapa yang berpuasa pada bulan Ramadhan karena iman dan mengharapkan pahala dari Allah, niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosanya yang telah lalu “(HR. Bukhari). Hadis Rasulullah Saw diatas harus dapat kita pelajari dan pahami untuk selanjutnya direalisasikan terutama selama bulan Ramadhan maupun diluar bulan Ramadhan. Sangat terang dan jelas via hadis beliau tersebut mengatakan bahwa siapa saja berpuasa yang dilandasi dengan keyakinan akan adanya balasan pahala, dan tulus mengharapkan keridhaan Allah semata, maka akan diampuni dosa-dosa dan perbuatan salah yang pernah dilakukanya.
Keunggulan Bulan Ramadhan. “Didalam Qs Al Baqarah ayat 183 Allah Swt berfirman “ Wahai orang-orang yang beriman diwajibkan atas kamu berpuasa, sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, mudah-mudahan kamu menjadi orang yang bertaqwa”. Pada bulan Ramadhan itulah diturunkan Al Quran nul karim sebagai petunjuk bagi manusia dan beberapa keterangan dari petunjuk, yang membedakan antara yang haq dan yang bathil”. Bulan Ramadhan adalah satu-satunya bulan yang disebutkan dalam Al Quran dan merupakan juga salah satu bulan diantara bulan-bulan lainya yang telah ditetapkan Allah Swt datangnya peristiwa-peristiwa besar dan bersejarah bagi perkembangan ilmu pengetahuan yang bersendikan Islam. Peristiwa-peristiwa penting itu antara lain : Turunnya wahyu Allah kepada para Nabi dan Rasul-Rasul-Nya diantaranya, wahyu kepada Nabi Musa As, wahyu kepada Nabi Isa As, dan wahyu kepada Nabi besar Muhammad Saw sebagai Nabi akhir zaman. Selain itu kemenangan terbesar umat Islam dalam peperangan Badar dan kembalinya kota suci mekah dari tangan kaum kafir juga di diraih di bulan suci Ramadhan ini.
Keistimewaan Sya’ban dan Ramadhan. Sesungguhnya untuk yang mau mempelajari bulan demi bulan mengandung kelebihan tersendiri, Ramadhan turunnya Al-Quran, Zulhijjah disebut bulan haji, Nabi Ibrahim mengorbankan anak sendiri Ismail kemudian umat Nabi Muhammad SAW, menamakannya bulan korban. Bulan Rajab Isra’ Mikraj Rasulullah SAW. Bulan Sya’ban meiliki jumlah keistimewaan dan hikmah pula, yakni hikmah dan kebaikan yang dikandungnya. Bulan Sya’ban mendatangi kita tiap tahun guna memberikan kesempatan agar meningkatkan dan melipatgandakan berbagai amal kebaikan. Pada bulan inilah kesempatan bagi kaum muslimin memperbanyak amal ibadahnya serta perbuatan lainnya seperti memberi sedekah fakir miskin, membina anak yatim, memperbanyak puasa sunnat guna melatih diri menghadapi puasa Ramadhan nantinya.
Bentengi Amal dari Penyakit Hati. Pada hakekatnya manusia itu senantiasa dituntut untuk selalu mendayagunakan akal budinya demi terciptanya ketentraman, kedamaian, kebahagiaan dan kebaikan. Baik atau kebaikan adalah salah satu sarana untuk melahirkan kebahagiaan, kebenaran dan keadilan hidup bermasyarakat dan beragama dalam wadah keimanan dan keislaman yang murni. Hal ini akan terwujud secara baik apabila sebongkah daging yang ada dalam tubuh setiap manusia tidak dikotori dan dinodai oleh berbagai macam penyakit yang biasa disebut dengan penyakit hati. Hal ini telah dipesankan Rasulullah Saw, bahwa didalam tubuh manusia itu ada segumpal daging, apabila segumpal daging itu baik. Maka segala kebaikan, kedermawanan, kehalusan budi dsb akan memancar dari dalam diri orang tersebut. Tetapi kalau gumpalan daging itu buruk, rusak, maka jelas segala keburukan yang berimbas pada kerusakan dalam berbagai bentuk, hidup dalam bermasyarakat akan sulit untuk dielakan. Segumpal atau sebongkah daging itulah yang yang beliau Saw sebut dengan “Hati”. Jelas menjauhkan hati tersebut dari aneka penyakit hati merupakan keharusan mutlak demi selamatnya amalan yang telah diperbuat untuk Allah semata
Jangan menyombongkan Diri. Allah Swt berfirman didalam Qs Lukman ayat 18. “ Dan janganlah kamu memalingkan muka (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan dimuka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.” Ayat diatas memberi informasi pada manusia, khususnya manusia muslim / muslimah untuk menjauhi suatu sifat yang abadi dimiliki Iblis laknatullah yaitu sombong, waktu diperintahkan Allah Swt untuk sujud dalam artian menghormati keberadaan Adam didalam sorga. Realitanya, memang manusia diciptakan Allah kepermukaan bumi ini memiliki kelebihan dan kekurangan yang beragam sebagai anugerah terindah dari sang pencipta. Akan tetapi, segala kelebihan yang dimiliki sering kali menbuat manusia itu terjebak dalam prilaku-prilaku yang dilarang sang khalik. Keterjebakan dari manusia itu adalah sering tidak menyadari akan segala kekurangan dan keterbatasannya sehingga timbul satu sifat yang membuat Iblis dan para kroninya senang itulah sifat sombong, pongah atau takabur.


