Memaknai Perjalanan Hati

By Bakhtiar Khatib on Monday, March 30, 2009
Filled Under: Tipu Daya Dunia
Post Page Rank

Memaknai Perjalanan Hati pada Kehidupan Umat Manusia. Rasulullah SAW bersabda : “ Ingatlah bahwa dalam tubuh itu ada sekeping daging, pabila daging itu baik baiklah seluruh tubuh itu. Dan apabila ia rusakrusak pulalah semua tubuh itu. Daging itu adalah hati “. (Al-Hadis).

Pada perjalanan hati selagi pemiliknya masih hidup, hati itu akan dihadapkan kepada banyak persoalan menyenangkan dan sebaliknya. Ulama mengomentari seperti Ibnu Taimiyah tentang hati yakni bahwa hatinya manusia ini adalah pemimpin mereka sendiri.

Sesungguhnya nikmat atau bukan dalam kehidupan seseorang diperankan, ditentukan oleh kehendak hati seseorang seperti hati saleh salehat dan durhaka, bukan dikendalikan oleh ilmu artinya baik kerjanya juga sebaliknya tubuh sebagai pelaksana saja, yang disebut jasmani. Bukti lain meurut ilmu membunuh sesame manusia dilarang, dosa kapan hati sudah jadi pimpinan memerintahkan terjadilah pembunuhan. Seseorang kurang ilmu mudah melaksanakan perampokan karena menjawab panggilan hatinya.

Sebaiknya hati yang sehat dirasakan bila berpadu dengan ilmu. Mendapatkan sebuah hati yang sehat wajib meninggalkan lima ajaran dilarang agama :

  • Dari dosa sirik yang menodai tauhid
  • Bida’ah
  • Kelalaian disebut lawan dzikir
  • Memenuhi hawa nafsu jahat
  • Melakukan pekerjaan bertentangan dengan perintah Allah.

Kelima hal yang sungguh dilarang agama merupakan penghalang seseorang dari Allah SWT. Dan masing-masing ajaran tersebut memiliki turunan anak-beranak yang tak terhitung.

Rasulullah SAW, bersabda : “ sebaik-baik manusia adalah yang mempunyai hati yang bersih, serta memiliki lisan yang jujur”. Sahabat bertanya apa yang dimaksud bersih hatinya? Beliau bersabda, “ Yaitu orang yang bertakwa, berhati bersih, tidak ada dosa kedurhakaan dan kedengkian di dalamnya”. Sahabat bertanya lagi, “Siapa yang menyerupai mereka? Rasulullah SAW, menjawab, “ seorang mukmin yang berakhlak mulia “. ( H.R. Thabrani dan Ibnu Majah).

Pelahiran hati yang baik dan bersih mampu menghidupkan kepada zikrullah. Menurut ulama ada lima cara yang dapat dilakukan untuk menumbuhkan kebaikan di dalam hati : “

  • Teliti sebelum makan apa makanan itu halal atau haram apakah makanan itu dapat dimakan dalam bingkai kacamata ibadah syariat Islam dan sebagainya.
  • Khusyuk beribadah serta patuh kepada perintah tuhan
  • Menjaga harga diri agar tidak melakukan perbuatan yang bertentangan dengan perintah agama
  • Membuang jauh segala hal yang dapat mengganggu dalam mengingat Allah SWT
  • Memperbanyak mengingat mati dan perjalanan selanjutnya di akhirat, masuk surga apa ke neraka.

Inilah syarat-syarat pokok ingin meniti jalan menuju kepada Allah SWT. Persyaratan yang lain akan mengikuti sendirinya.

Bila seeorang memahami secara benar syarat tersebut yang akan mengikuti sendirinya seperti tubuh jasmani yang disebut badan, juga hatinya akan bersih dibersihkan dan disucikan oleh gerak-geriknya yang berjalan menuju Alhha SWT. Seterusnya akan terus meningkat dari satu derajat ke derajat yang lain mengantarnya kepada makrifat Allah SWT. Kenyataan peningkatan ini juga tidak diukur dengan usia seseorang.

Itulah manisnya ibadah kepada Allah SWT. Itulah kegembiraan didapat dengan hati yang bersih bermunajat kepada Allah SWT, dapat merasakan kebahagian akhirnya diterima menjadi Ahlullah. Insya Allah, syurga merundukan agar dipercepat memasukinya.

Inilah hikmah positif memaknai perjalanan sebuah hati pada kehidupan umat manusia yakni hati yang baik bukan hati yang rusak karena anasir-anasir debu-debu kedurhakaan. Hadis Rasulullah SAW, menjelaskan :” Allah SWT, tidak melihat kepada bentuk tubuh seseorang, tapi Allah melihat terhadap gerak-gerik hati seseorang “. Artinya baik gerak hati dibalas baik pahala, bila gerak hati jahat Allah akan mendatangkan dosa. Baik syurga dan jahat neraka jahanam, pertanda ke adilan Illahi Rabbil Alamin (Allah yang mengatur seluruh Alam). (berbagai sumber. (bk). [ Terbit Pada Harian Haluan, Pada Tanggal 18 juli 2008 ]


Tags: , , , , ,

4 Responses to “Memaknai Perjalanan Hati”

  1.  arafi Says:

    pertamaxxx,,tulisannya bermanfaat sekali..

  2.  martias oyonk Says:

    mas arafi trims atas kunjungannya.hati adalah alat pendeteksi paling utama bagi manusia kebersihan hati jauh lebih bernilai dari materi,jangan biarkan hatimu dikotori oleh penyakit hati.

  3.  adi isa Says:

    mas oyonk, mas cendrung bermahzab atau hakekat?
    tidak bermaksud apa-apa, cuman sekedar nanya aja
    tks mas,
    artikelnya cukup bagus.
    salm

  4.  Martias Oyonk Says:

    @adi isa :
    Sebetulnya saya kurang faham dengan pertanyaan mas adi isa
    tapi bila saya boleh memahami sendiri ( kalau salah mohon koreksinya )

    mas oyonk, mas cendrung bermahzab atau hakekat?

    … ya dua-duanya mas, karena keduanya adalah satu rangkaian yang satu
    mengacu kepada salah satu mazahab ( mazahb syafii ) berarti kita mengikuti aturan hukum fikih yang sebelumnya sudah ditafsirkan oleh imam syafii. begitu juga mazahab yang lainnya seperti syarat sah sahalat, rukun puasa dll atau disebut juga ilmu syariat. hukumnya disebut hukum sar’i atau ada juga yang menyatakan sebagai hukum yang lima ( halal. haram, sunat, makruh, mubah )

    …. sedangkan hakikat adalah ilmu tauhid atau ilmu tasawuf yang merupakan pemahaman atau bimbingan spiritual yang mengarahkan kepada pencapaian kesempurnaan ibadah dan makrifat kepada Allah sebagau tujuan sekalian sembah seperti niat, zikir, cinta, zuhud, hikmah dll

    Jadi syariat/fikih/mazahab dan hakikat/tauhid/tasawuf itu tidak bisa dipisahkan. Tanpa syariat hakikat itu bohong, tanpa hakikat syariat itu kosong

    Saya sendiri memakai atau mengikuti aliran ahlul sunnah wal jamaah dengan acuan utama mazhab imam syafii

    Kesalahan pandang dengan memisahkan antara syariat dan hakikat itu adalah suatu usaha yang pada awalnya disusupkan oleh israiliyah untuk menghancurkan aqidah para sufi pada masa kejayaan ajaran ini. kemudian dilanjutkan pemisahaannya oleh faham wahabi yang menghukum bid’ah setiap hal yang tidak sesuai dengan pemahaman mereka seperti maulid nabi itu bid’ah, Qunut itu bid’ah, berdoa dan berzikir bersama itu bid’ah, membaca yasin untuk mayat bid’ah . Pemahaman inilah yang sekarang sangat banyak berkembang di Indonesia melalui organisasi sosial, partai politik dll ( mungkin saya tidak bisa saya sebutkan identitasnya karena takut dituduh fitnah )

    Jadi apakah saya bermazahab/syariat atau berhakekat atau mungkin bisa dilengkapi dengan tariqat dan makrifat ? saya jawab ya. semuanya. sesuai dengan kemampuan dan wawasan sederhana yang saya miliki.

    demikian mas adi isa. semoga bisa menjelaskan. Kalau ada yang belum jelas atau masalah lain yangperlu ditanyaakan. insya Allah saya akan coba menjelaskan. kalau tidak bisa, saya akan coba menanyakan dulu kepada guru saya ( alhamdulillah beliau masih ada )

    terimakasih atas kunjungan dan apresiasinya
    ditunggu tanggapan dan komentar berikutnya

Leave a Reply