Yang Menuai, Yang Menanam. Pada hakekatnya manusia itu senantiasa dituntut untuk selalu mendayagunakan akal budinya demi terciptanya ketentraman, kedamaian, kebahagiaan dan kebaikan. Baik atau kebaikan adalah salah satu sarana untuk melahirkan kebahagiaan, kebenaran dan keadilan hidup bermasyarakat dan beragama dalam wadah keimanan dan keislaman yang murni. Hal ini akan terwujud secara baik apabila sebongkah daging yang ada dalam tubuh setiap manusia tidak dikotori dan dinodai oleh berbagai macam penyakit yang biasa disebut dengan penyakit hati. Rasulullah Saw bersabda.”Bahwa didalam tubuh manusia itu ada segumpal daging, apabila segumpal daging itu baik. Maka segala kebaikan, kedermawanan, kehalusan budi dsb akan memancar dari dalam diri orang tersebut. Tetapi kalau gumpalan daging itu buruk, rusak, maka jelas segala keburukan yang berimbas pada kerusakan dalam berbagai bentuk, hidup dalam bermasyarakat akan sulit untuk dielakan. Segumpal atau sebongkah daging itulah yang yang beliau sebut dengan “Hati”. Jelas menjauhkan hati tersebut dari aneka penyakit hati merupakan keharusan mutlak demi selamatnya amalan yang telah diperbuat untuk Allah semata
Marhaban Yaa Ramadhan . “Didalam Qs Al Baqarah ayat 183 Allah Swt berfirman “ Wahai orang-orang yang beriman diwajibkan atas kamu berpuasa, sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, mudah-mudahan kamu menjadi orang yang bertaqwa”. Pada bulan Ramadhan itulah diturunkan Al Quran nul karim sebagai petunjuk bagi manusia dan beberapa keterangan dari petunjuk, yang membedakan antara yang haq dan yang bathil”. Bulan Ramadhan adalah satu-satunya bulan yang disebutkan dalam Al Quran dan merupakan juga salah satu bulan diantara bulan-bulan lainya yang telah ditetapkan Allah Swt datangnya peristiwa-peristiwa besar dan bersejarah bagi perkembangan ilmu pengetahuan yang bersendikan Islam. Peristiwa-peristiwa penting itu antara lain : Turunnya wahyu Allah kepada para Nabi dan Rasul-Rasul-Nya diantaranya, wahyu kepada Nabi Musa As, wahyu kepada Nabi Isa As, dan wahyu kepada Nabi besar Muhammad Saw sebagai Nabi akhir zaman. Selain itu kemenangan terbesar umat Islam dalam peperangan Badar dan kembalinya kota suci mekah dari tangan kaum kafir juga di diraih di bulan suci Ramadhan ini.
Keistimewaan Sya’ban dan Ramadhan. Sesungguhnya untuk yang mau mempelajari bulan demi bulan mengandung kelebihan tersendiri, Ramadhan turunnya Al-Quran, Zulhijjah disebut bulan haji, Nabi Ibrahim mengorbankan anak sendiri Ismail kemudian umat Nabi Muhammad SAW, menamakannya bulan korban. Bulan Rajab Isra’ Mikraj Rasulullah SAW. Bulan Sya’ban meiliki jumlah keistimewaan dan hikmah pula, yakni hikmah dan kebaikan yang dikandungnya. Bulan Sya’ban mendatangi kita tiap tahun guna memberikan kesempatan agar meningkatkan dan melipatgandakan berbagai amal kebaikan. Pada bulan inilah kesempatan bagi kaum muslimin memperbanyak amal ibadahnya serta perbuatan lainnya seperti memberi sedekah fakir miskin, membina anak yatim, memperbanyak puasa sunnat guna melatih diri menghadapi puasa Ramadhan nantinya.
Sifat Qana’ah. Celakalah orang – orang yang memperbudak dirinya kepada uang dan harta, apabila di beri harta dia puas, dan apabila tidak di beri dia akan gelisah. ( Hr Bukhari ).
Hadis Nabi yang di riwayatkan kembali oleh ulama besar Bukhari ini, menjelaskan pada orang – orang yang tidak memiliki suatu sifat yang di anjurkan dalam islam yaitu sifat Qana’ah,yang selalu tidak merasa cukup dengan rezki dan pemberian dari Allah Swt. Sehinga sifat syukur terhadap nikmat Allah yang telah di limpahkan padanya tidak ada sama sekali dalam diri dan jiwanya.
Memaknai Hijrah dan Taubat. Memaknai Hijrah (rohani) sangat mendesak dilakukan. Sejarah mencatat hijrah seorang remaja Arab bernama Umar Ibnu Khatab. Dia pemuda gagah perkasa berusia tiga puluh tahun, bangunan fisiknya kuat dan tegap, hidupnya ditandai emosi dan cepata naik darah. Kesenangan harian pemuda tersebut adalah foya-foya dam minum-minuman keras yang memabukkan. Dari kalangan Quraisy dialah yang tanpa ragu memenggal batang leher pengikut Muhammad SAW, dan menyiksa keluarganya sudah dapat dikatakan waktu itu “Aku Jazirah Arab ini” semuanya harus mematuhi saya tidak terkecuali penguasa tanah Jazirah Arab.
Bermodalkan kekerasan dan keserakahan Umar Ibnu Khatab sang diktator tanpa pendidikan itu sedang disibukkan mencari yang mulia Muhammad SAW. Guna untuk dipenggal kepalanya karena dia telah berani menyerang berhala-berhala sembahan yang dinilai tinggi yang dinamakan Latta dan Uzza. Ditengah perjalanan bertemu dengan Nu’im dan Abdullah. Setelah diketahui dan faham maksudnya Nu’im berkata : “Umar engkau menipu diri sendiri. Kau kira keluarga Muhammad SAW membiarkna kau meraja lela begini? Sudah engkau bunuh Muhammad SAW? Tidak lebih baik kau pulang saja kerumah dan perbaiki keluargamu sendiri?” (Muhammad Husin Haikal).


