Puasa dan Pengendalian Diri. “Puasa menurut bahasa Arab berarti As-Shiyaamu atau As-Syaum yaitu menahan dari segala sesuatu perbuatan yang diinginkan. Sedangkan menurut istilah Syarak berarti menahan dari makan dan minum dan dari segala apa yang akan membatalkan atau mengurangi nilai puasa tersebut, yang dihitung mulai dari terbit fajar sampai terbenamnya matahari yang diiringi dengan kumandang azan magrib sebagai tanda masuknya waktu berbuka dan shalat magrib. Dengan niat menjalankan perintah Allah dengan syarat-syarat yang telah ditentukan. Berpuasa pada bulan Ramadhan memiliki berbagai keistimewaan, keistimewaan-keistimewaan ini tidak dapat dirasakan kalau kita menjalankan ibadah puasa ini bukan pada bulan suci Ramadhan. Seperti yang disabdakan Rasulullah Saw “Man sama Ramadhana Imanan wahtisaban qufirallahu mathaqadam minzambih”. Barang siapa yang berpuasa pada bulan Ramadhan karena iman dan mengharapkan pahala dari Allah, niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosanya yang telah lalu “(HR. Bukhari). Hadis Rasulullah Saw diatas harus dapat kita pelajari dan pahami untuk selanjutnya direalisasikan terutama selama bulan Ramadhan maupun diluar bulan Ramadhan. Sangat terang dan jelas via hadis beliau tersebut mengatakan bahwa siapa saja berpuasa yang dilandasi dengan keyakinan akan adanya balasan pahala, dan tulus mengharapkan keridhaan Allah semata, maka akan diampuni dosa-dosa dan perbuatan salah yang pernah dilakukanya.
Bentengi Amal dari Penyakit Hati. Pada hakekatnya manusia itu senantiasa dituntut untuk selalu mendayagunakan akal budinya demi terciptanya ketentraman, kedamaian, kebahagiaan dan kebaikan. Baik atau kebaikan adalah salah satu sarana untuk melahirkan kebahagiaan, kebenaran dan keadilan hidup bermasyarakat dan beragama dalam wadah keimanan dan keislaman yang murni. Hal ini akan terwujud secara baik apabila sebongkah daging yang ada dalam tubuh setiap manusia tidak dikotori dan dinodai oleh berbagai macam penyakit yang biasa disebut dengan penyakit hati. Hal ini telah dipesankan Rasulullah Saw, bahwa didalam tubuh manusia itu ada segumpal daging, apabila segumpal daging itu baik. Maka segala kebaikan, kedermawanan, kehalusan budi dsb akan memancar dari dalam diri orang tersebut. Tetapi kalau gumpalan daging itu buruk, rusak, maka jelas segala keburukan yang berimbas pada kerusakan dalam berbagai bentuk, hidup dalam bermasyarakat akan sulit untuk dielakan. Segumpal atau sebongkah daging itulah yang yang beliau Saw sebut dengan “Hati”. Jelas menjauhkan hati tersebut dari aneka penyakit hati merupakan keharusan mutlak demi selamatnya amalan yang telah diperbuat untuk Allah semata
Memaknai Perjalanan Hati pada Kehidupan Umat Manusia. Rasulullah SAW bersabda : “ Ingatlah bahwa dalam tubuh itu ada sekeping daging, pabila daging itu baik baiklah seluruh tubuh itu. Dan apabila ia rusakrusak pulalah semua tubuh itu. Daging itu adalah hati “. (Al-Hadis).
Pada perjalanan hati selagi pemiliknya masih hidup, hati itu akan dihadapkan kepada banyak persoalan menyenangkan dan sebaliknya. Ulama mengomentari seperti Ibnu Taimiyah tentang hati yakni bahwa hatinya manusia ini adalah pemimpin mereka sendiri.
Laknat Allah. Rasulullah Saw bersabda “ Tidak akan masuk sorga orang yang didalam hatinya tersimpan sedikit saja kesombongan. Lalu ada seorang sahabat bertanya sesungguhnya ada seseorang yang suka berpakaian bagus dan sandalnya juga bagus. Rasulullah Saw bersabda : Sesungguhnya Allah Swt itu maha indah dan menyukai keindahan, sedangkan sombong itu, menolak kebenaran dan suka merendahkan orang lain.” ( Hr. Muslim ). Didalam hadis beliau Saw diatas mengatakan bukan beliau saja yang membenci sifat sombong bahkan Allah Swt sangat tidak menyukainya. Sombong dalam artian sangat malas, enggan sekali bahkan menolak secara terang-terangan kebenaran yang telah susah payah diperjuangkan para Nabi dahulunya. Begitu juga laknat Allah akan menimpa manusia yang suka menjelek-jelekkan dan merendahkan manusia lain didalam berbagai aspek kehidupannya.
Terbit Pada Harian Haluan Pada Hari Jumat Tanggal 07 Desember 2007
Cerminan Pribadi Muslim. Pada dasarnya semua umat manusia dipermukaan bumi Allah ini adalah umat yang satu (bersaudara), dari bapak yang satu yaitu Nabi Adam As yang bergelar Abul Basyar (bapaknya semua manusia). Hal ini harus selalu menjadi perhatian bagi umat manusia, khususnya umat Islam dibelahan bumi manapun, hal ini dianjurkan, dalam rangka merajut hubungan dengan Allah (penguasa alam) dan menjalin hubungan dengan sesama umat manusia (pengelola alam). Islam sebagai agama damai yang berpihak pada kedamaian dan kebenaran menjanjikan kehidupan yang bahagia, sejahtera, damai dan sentosa bukan saja didunia ini namun, juga akan dapat dirasakan diakhirat kelak. Tentu, selagi individu antar individu dan kelompok antar kelompok selalu melanggengkan silaturahmi, rasa kebersamaan dan tolong-menolong dalam bingkai Ukhuwah Islamiyah (persaudaraan sesama muslim) khususnya.


